Note

Kisah Wanita Tani di Prabumulih Raup Cuan dari Sayuran Organik

· Views 41
Kisah Wanita Tani di Prabumulih Raup Cuan dari Sayuran Organik
Foto: Pertamina
Jakarta

Perempuan menjadi tulang punggung perubahan. Bergerak dari sektor ekonomi dengan pertanian sayur organik skala pekarangan menjadi jalan kemandirian kelompok. Semua berawal dari pola pikir, perempuan harus di depan.

Tri Ningsih, Ketua KWT (Kelompok Wanita Tani) Kemuning, Kelurahan Patih Galung, Kecamatan Prabumulih Barat, Kota Prabumulih, Sumatera Selatan seakan tak pernah berhenti untuk belajar. Meski usia sudah di atas 40 tahun, ia selalu memotivasi para perempuan anggotanya untuk maju.

"Kalau ada pelatihan, kami selalu duduk di depan supaya mendengar semua materi. Kalau duduk di belakang, kita tidak dapat apa-apa," kata Tri dalam keterangannya, dikutip Senin (29/7/2024).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Konsep itulah yang selalu ia sampaikan ketika memotivasi anggota. Tak serta merta berhasil, butuh waktu. Tapi ketika sudah menghasilkan, dalam hal ini ekonomi, maka anggotapun tertarik untuk bergabung dan aktif.

"Kalau mendengar istilah wanita tani, yang terbayang dekil, berlumpur. Saya ingin mengubah mindset itu," katanya semangat.

ADVERTISEMENT

Dari sanalah ternyata kunci dari motivasi para perempuan untuk aktif. Bisa membeli kerudung bagus dari menghemat uang belanja.

Berawal pada Oktober 2019, ketika pemerintah memberikan dana fasilitasi senilai Rp 50 juta/KWT. Saat itulah, Tri dkk membentuk KWT. Fasilitas tersebut bukan berupa dana segar, namun berupa fasilitas yang mendorong peningkatan pendapatan. KWT Kemuning memilih bertanam sayuran organik.

"Awalnya karena saya pribadi suka bertanam. Saya menanam apa saja. Bahkan menanam anggur organik, bisa buah dan lebat," terang Tri.

Dari belajar otodidak, membaca, juga melihat Youtube, ia praktikkan semua yang ia pelajari. Anggota KWT Kemuning yang terdaftar sebanyak 30 orang, namun yang aktif pada awalnya tak lebih dari 5 orang.

Hal ini tidak menyurutkan semangat Tri untuk menghidupkan kelompok perempuan. Alumni Fakultas Ekonomi di Sumatera Selatan ini sebenarnya tidak perlu merepotkan diri jika hanya memikirkan kepentingan sendiri.

"Saya melihat lingkungan saya kok seperti ini. Ibu-ibu tidak punya uang. Pendapatan sulit," kenangnya.

Ia ingin berbuat sesuatu untuk sama-sama meningkatkan pendapatan. Apalagi para perempuan yang sudah kelelahan bekerja di ladang karet menjadi penyadap. Tidak sempat lagi untuk mengembangkan diri. Setiap hari disibukkan bertarung dengan keterbatasan ekonomi.

Menghemat Pengeluaran Ratusan Ribu per Minggu

Pada awalnya, Tri menanam aneka sayuran daun. Mulai dari kangkung dan bayam. Kangkung bisa panen dalam waktu satu bulan. Ia menanam di lahan tidur yang lama tidak dimanfaatkan selain ia juga menanam di rumahnya sebagai hobi.

"Pertanian organik ini yang paling susah saat mengembalikan tanah yang sudah keras. Kami mencangkul sendiri," kata Tri.

Tanah yang sudah biasa menerima asupan pupuk kimia sintetis perlu digemburkan lagi. Setelah dicangkul, disebar pupuk kandang dan kompos hingga siap ditanami.

Panen pertama di lahan ukuran 30x40m tersebut dihadiri oleh Walikota Prabumulih. Hal ini memberi semangat bagi anggota yang lain untuk lebih aktif. Apalagi setelah tahu, dari hasil bertanam sayuran organik ini bisa memberi pendapatan tambahan.

"Kami bagikan hasil panen ke anggota. Kami juga sampaikan, kalau kita menanam sayuran, kita bisa menghemat Rp 200-300 ribu/minggu," terang Tri.

Ia mendapatkan angka tersebut dari pengalaman mencatat. Juga dari penelitian S2 yang dilakukan oleh salah satu mahasiswa di KWT Kemuning. Selain memberikan pendapatan untuk anggota, KWT Kemuning juga menjadi tempat belajar dan penelitian bagi mahasiswa.

Selain menghemat, KWT Kemuning juga mendapatkan penghasilan dari menjual sayuran. Dalam sekali panen, KWT Kemuning bisa menghasilkan Rp 800 ribu untuk menjual aneka sayuran ke warung-warung. Kali ini tak hanya kangkung dan bayam, tapi sudah beragam mulai kacang panjang, terong hingga bawang merah.

Khusus untuk bawang merah, menjadi keberhasilan lain. Awalnya dikira bawang merah hanya tumbuh di dataran tinggi. Tapi di desa yang ketinggiannya hanya 70mdpl, bawang merah yang ditanam di polibag berbuah lebat dan besar-besar. Pupuknya pun dengan pupuk organik.

"Dengan pupuk kimia sintetis tidak kalah. Yang penting dapat panas penuh," kata Tri.

Dari keberhasilan ini, akhirnya KWT Kemuning mulai memperluas lahan. Tak jauh dari lahan pertama, ada lahan tidur yang sudah siap tanam.

Selain sayuran, ada juga produk dari tanaman obat yang ditanam tumpang sari dengan sayuran. Tanaman obat ini diolah menjadi minuman instan dan jamu. Produknya sudah mendapatkan IPRT yang diurus sendiri oleh anggota KWT.

Sejauh ini, produk masih berdasarkan pesanan. Setiap ada acara yang diselenggarakan pemerintah maupun BUMN khususnya Pertamina, produk dari KWT selalu hadir dan diminati.

Baca halaman berikutnya KWT yang Cepat Mandiri..

Halaman 1 2
Selanjutnya


Simak Video "Olahan Pangan Serangga jadi Solusi Atasi Kelaparan di Afrika"
[Gambas:Video 20detik]

Disclaimer: The content above represents only the views of the author or guest. It does not represent any views or positions of FOLLOWME and does not mean that FOLLOWME agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the FOLLOWME community, the community does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.

FOLLOWME Trading Community Website: https://www.followme.com

If you like, reward to support.
avatar

Hot

No comment on record. Start new comment.