Garuda Indonesia (GIAA) Sebut Gugatan Greylag Kembali Dimentahkan MA

IDXChannel - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menyatakan, upaya hukum peninjauan kembali (PK) dan kasasi yang dilakukan Greylag 1410 atas perseroan ditolak Mahkamah Agung (MA). Putusan ini memperkuat penolakan MA sebelumnya atas gugatan entitas Greylag yang lain, Greylag 1416.
Keputusan itu tertuang dalam Putusan MA Nomor 23 PK/Pdt.Sus-Pailit/2024 tertanggal 25 Juli 2024 yang berisi Permohonan PK atas Putusan Pembatalan Perdamaian No.425/Pdt. Sus KPU/2021/PN Niaga Jakarta Pusat. Putusan ini adalah respons terhadap perkara Nomor 9PK/Pdt. Sus Pailit72024/PN. Niaga Jkt. Pst yang diajukan oleh Greylag 1410.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan, perseroan menerima putusan tersebut dari konsultan hukum yang pada intinya menolak pemeriksaan PK Greylag 1410 dan menghukum Greylag 1410 untuk membayar biaya perkara sebesar Rp10 juta.
"Tidak ada dampak terhadap kegiatan operasional perseroan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Perseroan memastikan bahwa seluruh kegiatan operasional berjalan dengan normal," katanya lewat keterbukaan informasi, Kamis (29/8/2024).
Sebagai informasi, perusahaan lessor Greylag selama ini cukup gencar mengajukan gugatan kepada Garuda di tiga negara yang berbeda. Di Indonesia, GIAA telah memenangkan gugatan Greylag 1446 untuk membatalkan perdamaian PKPU yang telah disetujui kreditur pada 2022 lalu. MA menolak kasasi Greylag 1446.
GIAA lewat Garuda Indonesia Holiday France SAS (GIHF) sebelumnya juga telah memenangkan gugatan dari Greylag 1410 dan Greylag 1446 di Pengadilan Niaga Paris yang diputus 22 Februari 2024. Gugatan itu diajukan pada 9 Februari 2023.
Gugatan di Paris tersebut terkait permintaan Greylag untuk menyita rekening bank milik GIHF. Greylag pun dihukum membayar biaya perkara sebesar 80 ribu euro atau Rp1,36 miliar kepada GIHF.
"Dengan ketetapan hukum ini, maka selanjutnya fokus kami adalah untuk memastikan misi transformasi dan upaya pemenuhan kewajiban Garuda Indonesia sebagaimana yang telah disetujui oleh mayoritas kreditur berlangsung optimal," kata Irfan.
Selain Indonesia dan Prancis, Greylag juga menggugat Garuda di Australia berupa gugatan pembubaran (winding up). Putusan yang keluar pada 5 Juni 2024 juga dimenangkan GIAA.
(Rahmat Fiansyah)
Reprinted from Idxchannel,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The content above represents only the views of the author or guest. It does not represent any views or positions of FOLLOWME and does not mean that FOLLOWME agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the FOLLOWME community, the community does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.
FOLLOWME Trading Community Website: https://www.followme.com
Hot
No comment on record. Start new comment.