Harga Saham Tertekan, Pemulihan BTPN Syariah (BTPS) Diprediksi Butuh Waktu Panjang

IDXChannel - Kinerja keuangan PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) tertekan selama kurang lebih 1,5 tahun terakhir. Hal ini berimbas pada penurunan kinerja saham bank syariah tersebut.
Pada tanggal 4 Oktober 2021, harga saham BTPS mencapai Rp3.400, tapi kini tinggal Rp1.165 per saham. Dengan kata lain, nilai kapitalisasi pasarnya menguap 65 persen atau Rp4,8 triliun.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano mengatakan, sebelum pandemi, valuasi saham BTPS dihargai premium karena menjalankan bisnis yang menarik. Selain fokus membantu ibu-ibu, bisnis BTPS berdampak sosial cukup besar dan sangat menguntungkan dengan kualitas aset yang baik.
"Setelah pandemi, BTPS menghadapi berbagai isu terkait meningkatnya moral hazard di kalangan nasabah, sehingga meski memiliki dampak sosial yang baik dan imbal hasil tinggi, kualitas aset BTPS berkurang, yang akhirnya berdampak pada valuasinya," kata Victor lewat risetnya yang dikutip Jumat (4/10/2024).
Dalam riset bertajuk, "NPL Cycle Hits Bottom, A Long Road to Recovery Ahead", Victor mengatakan, saham BTPS saat ini dihargai pada Price to Book Value (PBV) 1 kali. Padahal, sebelum pandemi, saham anak perusahaan PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) itu dihargai hingga empat kali PBV.
Victor berpendapat, BTPS masih menghadapi isu soal kualitas aset di mana Non Perfoming Financing (NPF) hingga 30 Juni 2024 mencapai 3,1 persen dengan write-off pinjaman hingga Rp500 miliar per bulan pada semester I-2024, lebih tinggi dari rata-rata write-off bulanan sepanjang tahun 2023 yang sebesar Rp375 miliar.
"Dengan model bisnis BTPS yang bergantung pada perilaku konsumen dan melihat kondisi ekonomi saat ini, kami yakin sangat menantang bagi manajemen untuk mengembalikan kinerja sukses yang diraih seperti sebelum pandemi," ujarnya.
Di samping itu, Victor juga menyoroti biaya kredit (Credit of Cost atau CoC), terutama biaya provisi. Dia yakin biaya provisi BTPS bakal lebih tinggi dari estimasi konsensus Rp1,3 triliun, yang pada gilirannya akan menekan laba bersih perseroan.
"Kami mengantisipasi risiko penurunan pada konsensus bottom line (konsensus laba bersih FY24 tumbuh 8 persen)," katanya.
Kendati demikian, Victor tetap mempertahankan rating HOLD pada saham BTPS dengan target harga Rp1.300. Kinerja BTPS memiliki potensi upside dari sisi kualitas aset dan CoC yang diharapkan membaik meski tetap mempunyai potensi downside dari sisi memburuknya aset.
(Rahmat Fiansyah)
Reprinted from Idxchannel,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The content above represents only the views of the author or guest. It does not represent any views or positions of FOLLOWME and does not mean that FOLLOWME agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the FOLLOWME community, the community does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.
FOLLOWME Trading Community Website: https://www.followme.com
Hot
No comment on record. Start new comment.