Pasardana.id – Riset harian NH Korindo Sekuritas menyebutkan, Yield US Treasury mundur teratur, sementara S&P 500 berakhir sedikit lebih tinggi pada perdagangan hari Selasa (14/01/24) setelah data menunjukkan US PPI menjinak di bawah perkiraan pada bulan Desember, tetapi investor tetap berhati-hati menjelang data US CPI yang dipantau ketat hari Rabu ini dan dimulainya laporan pendapatan kuartal 4.
S&P 500 bergerak choppy sepanjang sesi sebelum berakhir 0,1% lebih tinggi. DJIA juga ditutup naik 0,52%, sementara Nasdaq tergelincir 0,23% lebih rendah.
Indeks saham MSCI global menguat 0,31%, menjadi 834,41. Indeks Eropa STOXX 600 turun tipis 0,08%.
MARKET SENTIMENT: Inflasi di tingkat produsen AS naik 0,2% mom pada bulan Desember, di bawah ekspektasi kenaikan 0,3% dan turun dari 0,4% pada bulan November. Laporan PPI ini sepertinya masih belum mengubah pandangan bahwa Federal Reserve tidak akan memangkas suku bunga lagi sebelum paruh kedua tahun ini, secara Fed Rate Monitor Tool milik Investing.com tetap menunjukkan angka 97.8% probability Fed Fund Rate akan ditahan tetap di level 4.25%-4.50% pada FOMC Meeting 28-29Jan mendatang. Kebakaran hebat di kawasan Los Angeles kemungkinan akan memberi tekanan kecil pada ekonomi nasional AS dalam waktu dekat, tetapi tidak akan menggagalkan momentum maju yang kuat, demikian prediksi para ekonom di sana.
– Data US CPI diharapkan menunjukkan inflasi secara bulanan bertahan di 0,3% pada bulan Desember sementara angka tahunan memanas menjadi 2,9%, dari 2,7% pada bulan November. Investor juga bersiap untuk laporan keuangan perusahaan – Q4 / 2024, di mana result dari beberapa bank terbesar AS akan dirilis mulai hari Rabu. Pemberi pinjaman ini diharapkan mampu laporkan laba yang lebih kuat, didorong oleh transaksi dan perdagangan yang kuat. Bisa dimaklumi jika para investment manager mengambil sikap wait & see sebelum mereka melihat sederet hasil kinerja perusahaan sebelum bermanuver lebih lanjut di market.
– Potensi tarif yang dapat meningkatkan inflasi setelah Presiden terpilih Donald Trump resmi menjabat 20 January mendatang juga membayangi pasar. Bloomberg melaporkan bahwa para menteri Trump sedang mempertimbangkan berbagai ide termasuk menaikkan tarif (secara bertahap) sebesar 2% hingga 5% per bulan untuk meningkatkan daya ungkit AS dan untuk mencoba menghindari lonjakan inflasi.
FIXED INCOME & CURRENCY : YIELD US TREASURY acuan tenor 10 tahun menurun, tetapi tetap mendekati level tertingginya dalam 14 bulan. Imbal hasil terakhir sedikit mundur pada 4,788% setelah mencapai 4,805% semalam, level tertinggi sejak November 2023. Imbal hasil yang lebih tinggi telah membebani ekuitas dengan membuat obligasi relatif lebih menarik , sekaligus meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan.
– US DOLLAR melemah terhadap Euro tetapi tetap mendekati level tertingginya dalam lebih dari 2 tahun. DOLLAR INDEX , yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang termasuk Yen dan Euro, turun 0,21% menjadi 109,19, dengan Euro turun 0,03% pada $1,0304.
KOMODITAS: Harga MINYAK turun setelah badan pemerintah AS memperkirakan permintaan minyak AS akan stabil pada tahun 2025 sementara badan tersebut menaikkan perkiraan supply-nya. Minyak mentah US WTI (New York- based) turun $1,32 menjadi $77,50 per barel ; sementara BRENT (London-based) turun $1,09 menjadi $79,92.
MARKET ASIA: Kebanyakan pasar Asia menguat pada hari Selasa, indeks MSCI Asia ex-Japan bangkit dari level terendah dalam 5 bulan dan saham-saham unggulan CHINA melonjak lebih dari 2,5%, setelah regulator di sana menjanjikan lebih banyak dukungan untuk pasar dan perusahaan-perusahaan chip lokal menguat setelah AS meningkatkan pembatasan teknologinya. Sebaliknya , saham-saham JEPANG bergerak ke arah sebaliknya setelah Deputi Gubernur Bank of Japan Ryozo Himino mengisyaratkan adanya kenaikan suku bunga minggu depan. Indeks Nikkei 225 mencatat penurunan terbesarnya dalam 2,5 bulan, anjlok 1,8%. Sentimen produsen Jepang pulih pada bulan Januari setelah penurunan bulan lalu berkat iklim yang lebih kondusif untuk industri material, namun prospek mereka tetap datar akibat ketidakpastian kebijakan Trump, demikian menurut jajak pendapat Reuters Tankan.
– Ancaman perang dagang global dan sanksi tarif AS atas banyak negara – terutama China – terus menghantui sentimen pasar seiring semakin dekatnya pelantikan presiden terpilih AS Donald Trump pada 20 Januari. Saat bertemu dengan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa pada hari Selasa, Presiden China Xi Jinping mengatakan China dan Uni Eropa memiliki hubungan ekonomi “simbiosis” yang kuat dan Beijing berharap blok tersebut dapat menjadi “mitra kerja sama yang dapat dipercaya”. Sementara itu, Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa ia akan membuat departemen baru yang disebut External Revenue Services yang berfungsi untuk mengumpulkan tarif, bea, dan semua pendapatan dari sumber-sumber asing.
– Won KOREA SELATAN adalah salah satu mata uang Asia dengan kinerja terbaik tahun ini, tetapi rentan jatuh pada hari Rabu setelah Yonhap melaporkan bahwa pihak otoritas yang menyelidiki Presiden Yoon Suk Yeol (yang telah dimakzulkan) berada di kediaman resminya untuk melaksanakan surat perintah penangkapan. Tingkat pengangguran Korea Selatan melonjak ke level tertinggi dalam 3,5 tahun pada bulan Desember, seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan melemahnya sentimen di tengah kekacauan politik. Unemployment rate naik pada bulan Desember menjadi 3,7% berdasarkan penyesuaian musiman, tertinggi sejak Juni 2021 dan naik tajam dari 2,7% pada bulan November, dilansir dari Statistik Korea. Jumlah orang yang bekerja turun sebanyak 52.000 selama 12 bulan hingga Desember, setelah naik sebanyak 123.000 pada bulan November. Ini adalah penurunan pertama sejak Februari 2021.
MARKET EROPA : Laporan Inflasi juga akan muncul di INGGRIS di mana CPI (Dec) mereka diramalkan flat pada level 2.6% yoy, masih sama dengan posisi Nov ; walau secara bulanan mungkin memanas 0.3% lebih tinggi dari posisi 0.1% bulan sebelumnya.
INDONESIA: Keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) akan mewarnai atmosfer pasar hari ini. Menghadapi volatilitas mata uang Rupiah belakangan ini yang masih belum bergeming dari titik terendah 5 bulanan pada IDR 16,288 / USD , BI secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga utamanya pada 6,00%. Dengan inflasi di batas bawah kisaran target bank sentral sebesar 1,5%-3,5%, kebijakan moneter diarahkan untuk menstabilkan Rupiah, yang turun sekitar 7% versus Dollar dari puncaknya di bulan September. Seperti kebanyakan negara berkembang, Indonesia telah terpukul keras oleh melonjaknya imbal hasil obligasi AS dan US Dollar, mengetatkan kondisi keuangan yang membatasi kemampuan BI untuk melonggarkan kebijakan. Menurut Goldman Sachs, kondisi keuangan Indonesia telah memburuk tajam sejak akhir September, terutama karena kenaikan suku bunga jangka panjang dan penurunan ekuitas. Kondisi tersebut sekarang menjadi yang terketat sejak Oktober 2023, dan mendekati yang terketat sejak Oktober 2022. MSCI Indonesia atau yang kita kenal dengan singkatan EIDO, merosot 1,21% ke level 18,0 yang merupakan titik terendah 52 minggu.
IHSG terperosok ke bawah level support psikologis 7000, berkurang 60,2pts / -0,86% ke level 6956,7 didera oleh Net Sell asing yang masih berlangsung sebesar IDR 633,2 milyar kali ini (all market). Secara YTD, asing masih konsisten menjual portofolio saham Indonesia mereka hingga mencapai IDR 3,32 triliun (all market).
Walau analis NH Korindo Sekuritas merasa posisi IHSG saat ini cukup menggoda untuk sebuah bottom fishing, namun para investor / trader perlu menyadari faktor uncertainty yang substantial berada pada pihak AS dan tingkat Inflasinya yang akan membentuk gambaran kebijakan moneter global ke depannya.
Oleh karena itu, sikap WAIT & SEE masih lebih banyak disarankan.
“Diperkirakan Support : 6983 / 6738-6642 dan Resist : 7077 /7108. Advise : Wait and See,” sebut analis NH Korindo Sekuritas dalam riset Rabu (15/1).
Hot
No comment on record. Start new comment.