Note

Prospek Sektor Perbankan di 2025, Peluang dan Tantangan

· Views 24
Prospek Sektor Perbankan di 2025, Peluang dan Tantangan
Prospek Sektor Perbankan di 2025, Peluang dan Tantangan. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Industri perbankan Indonesia diproyeksikan menghadapi tantangan pertumbuhan yang melambat di 2025.

Dalam laporan terbarunya, pada 14 Januari 2025, BRI Danareksa Sekuritas, memprediksi pertumbuhan laba per saham (EPS) sektor perbankan hanya mencapai 5,8 persen pada 2025, lebih rendah dibandingkan proyeksi 2024 yang sebesar 6,7 persen.

Baca Juga:
Prospek Sektor Perbankan di 2025, Peluang dan Tantangan Saham Prajogo Pangestu BREN dan CUAN Tancap Gas Demi Kejar MSCI

Perlambatan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan kredit yang moderat, diperkirakan sebesar 9,9 persen, turun dari 13,4 persen pada 2024.

Penurunan pertumbuhan kredit terutama berasal dari segmen korporasi, yang dipengaruhi oleh ekspansi yang terbatas di sektor pertambangan dan penggalian, serta segmen UMKM yang masih menghadapi pemulihan kualitas aset.

Baca Juga:
Prospek Sektor Perbankan di 2025, Peluang dan Tantangan Sektor Properti Masih Punya Sentimen Positif, Dua Saham Ini Jadi Andalan

Meski demikian, demikian mengutip BRI Danareksa, bank-bank besar diperkirakan tetap mencatatkan pertumbuhan kredit yang lebih baik dari rata-rata industri.

Likuiditas Ketat Berlanjut
Tekanan likuiditas diperkirakan tetap tinggi, terutama pada paruh pertama 2025. Rasio dana cadangan sekunder perbankan hingga kuartal III-2024 berada di angka 16 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata sebelum pandemi sebesar 20 persen.

Baca Juga:
Prospek Sektor Perbankan di 2025, Peluang dan Tantangan Dirut Raharja Energi Cepu Serok Saham RATU di Harga Rp2.500

Meski insentif Giro Wajib Minimum (GWM) dapat menambah likuiditas hingga Rp44 triliun, jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan tambahan likuiditas sekitar Rp148 triliun yang diberikan insentif GWM pada tahun lalu.

Risiko Kredit Meningkat
BRI Danareksa juga mencatat potensi kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) dan biaya kredit (CoC) di 2025, seiring ketidakpastian kondisi ekonomi dan akibat basis yang rendah (low base) pada 2024. Meski rasio NPL pada 2024 relatif stabil, segmen UMKM mulai menunjukkan peningkatan NPL.

Namun, kata BRI Danareksa, hal ini tertutupi oleh segmen non-UMKM yang mencatatkan perbaikan pada rasio NPL-nya.

“Karena UMKM menyumbang 60 persen terhadap PDB, jika kondisi NPL di segmen UMKM terus berlanjut, hal ini dapat memengaruhi NPL di segmen lainnya atau non-UMKM,” demikian mengutip analis BRI Danareksa.

Rating Sektor Diturunkan ke Netral
Dengan mempertimbangkan risiko-risiko tersebut, BRI Danareksa menurunkan rekomendasi sektor perbankan menjadi netral, dari sebelumnya overweight. Namun, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tetap menjadi saham unggulan dengan target harga Rp11.800 per saham.

Meskipun sektor ini menghadapi tantangan, peluang tetap terbuka jika nilai tukar rupiah menguat, terjadi lebih banyak penurunan suku bunga, dan kualitas aset tetap terjaga.

Akan tetapi, investor diimbau berhati-hati terhadap potensi penurunan kualitas aset yang signifikan. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Disclaimer: The content above represents only the views of the author or guest. It does not represent any views or positions of FOLLOWME and does not mean that FOLLOWME agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the FOLLOWME community, the community does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.

FOLLOWME Trading Community Website: https://www.followme.com

If you like, reward to support.
avatar

Hot

No comment on record. Start new comment.