Ekspor Timah Merosot, Begini Dampaknya ke Bisnis TINS

IDXChannel - Industri timah nasional tengah menghadapi tantangan besar seiring turunnya volume ekspor di awal 2025.
Volume ekspor timah olahan Indonesia turun tajam sebesar 67 persen month-over-month (MoM) pada Januari 2025 menjadi 1.566 ton.
Equity Analyst BRI Danareksa Sekuritas Timothy Wijaya menilai, kondisi tersebut akibat tertundanya penerbitan izin ekspor oleh Kementerian Perdagangan untuk sejumlah pabrik smelter, termasuk emiten PT Timah Tbk (TINS).
“Berdasarkan catatan kami, izin ekspor dirilis pada pertengahan Februari. Dengan demikian, kami memperkirakan penjualan akan menyusul pada Februari,” kata Timothy dalam risetnya, Rabu (26/2/2025).
Sedianya kejadian serupa pernah terjadi pada Juli-Agustus 2024, di mana keterlambatan izin membuat ekspor tertunda sementara. Namun berhasil dikejar dalam bulan-bulan berikutnya.
Destinasi utama ekspor olahan timah meliputi China (903 ton, -51 persen MoM), Korea (222 ton, -53 persen MoM), dan Singapura (75 ton, -85 persen MoM).
Meskipun demikian, ekspor telah kembali berjalan sejak pertengahan Februari. Timothy menilai hal ini akan memperbaiki performa TINS dalam beberapa bulan mendatang.
Analis menyoroti volume produksi timah global yang melandai. Faktornya adalah penurunan biaya pengolahan konsentrat timah (TC) di China, sehingga memaksa smelter untuk menghentikan produksi.
Salah satu dampak positif dari keterbatasan ekspor adalah tingginya harga timah di pasar global.
Harga timah di London Metal Exchange (LME) tetap stabil di level tinggi, didukung oleh berkurangnya pasokan dari Indonesia serta penurunan impor bijih timah oleh China .
“Hal ini juga didorong oleh penurunan impor bijih oleh China dari Myanmar, dan Republik Demokratik Kongo,” kata dia.
Strategi TINS hadapi penurunan ekspor
Dalam menghadapi ketidakpastian produksi dan ekspor, TINS saat ini fokus terhadap efisiensi operasional melalui peningkatan penggunaan teknologi Ausmelt (TSL Ausmelt)
Perusahaan menargetkan 90 persen produksi timah metal mereka pada 2025 menggunakan TSL Ausmelt.
“Rendahnya produksi juga berarti biaya yang lebih tinggi dalam dua bulan pertama 2025, meskipun kami memperkirakan biaya tersebut akan pulih selama sisa tahun ini karena (perusahaan) berencana untuk memproduksi 90 persen logam timah menggunakan Ausmelt yang lebih hemat biaya,” tutur dia.
Namun, cuaca buruk dan kendala operasional di awal tahun dikhawatirkan membuat produksi dan penjualan TINS pada Januari-Februari 2025.
“Kami bersikap konservatif terhadap volume produksi/penjualan TINS pada Januari-Februari 2025,” ujarnya.
BRI Danareksa Sekuritas masih menyematkan rekomendasi ‘BUY’ untuk saham TINS, dengan target harga Rp2.300 per saham. Hingga sesi pertama Rabu (26/2/2025) saham TINS turun 1,52 persen ke Rp975 per saham.
Secara valuasi saham, rasio harga terhadap laba (price to earnings/PE) ratio TINS diestimasi mencapai 4,5x pada akhir 2025, dan 5,0x pada 2026.
(DESI ANGRIANI)
Reprinted from Idxchannel,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The content above represents only the views of the author or guest. It does not represent any views or positions of FOLLOWME and does not mean that FOLLOWME agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the FOLLOWME community, the community does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.
FOLLOWME Trading Community Website: https://www.followme.com
Hot
No comment on record. Start new comment.