Panduan Dasar Analisis Fundamental untuk Investor Pemula dan 6 Rasio Populernya

IDXChannel—Panduan dasar analisis fundamenal untuk investor pemula adalah pelajaran yang harus diperoleh sebelum mulai berinvestasi. Analisis fundamental adalah metode analisa untuk melihat seberapa aman saham suatu perusahaan.
Ada dua jenis metode analisa dalam investasi saham, yakni analisis fundamental dan analisis tekninal. Analisis fundamental umumnya digunakan untuk investasi jangka panjang, dengan cara melihat potensi perusahaan dari beragam faktor.

Faktor yang dilihat antara lain kondisi perusahaan secara umum, kinerja keuangan perusahaan, seberapa efektif perusahaan mengelola modal dan bisnisnya, juga seberapa kuat perusahaan dalam persaingan industri.
Menganalisa suatu saham secara fundamental bertujuan untuk mendapatkan pertimbangan harga yang layak dan wajar dengan kondisi perusahaan saat ini, juga melihat bagaimana prospek perusahaan tersebut dalam jangka panjang.

Untuk melihat kinerja keuangan dan seberapa menguntungkan bisnis yang dilakoni emiten, ada beberapa indikator yang dapat digunakan. Indikator ini diperoleh dari beragam rasio yang menghitung kondisi keuangan perusahaan.
Panduan Dasar Analisis Fundamental untuk Investor Pemula
Investor yang baru terjun ke dunia investasi akan sering membaca beragam jenis rasio keuangan dalam analisis fundamental. Misalnya rasio profitabilitas, rasio solvabilitas, dan rasio likuiditas.

Ketiga rasio di atas memiliki beberapa indikator yang menghitung dan menunjukkan kondisi keuangan perusahaan secara spesifik. Misalnya, perhitungan kemampuan perusahaan membayar utang-utangnya dalam jangka pendek.
Namun dari ketiga rasio tersebut, ada beberapa indikator yang sering dipertimbangkan oleh investor secara umum. Berikut ini adalah enam rasio yang digunakan dalam analisis fundamental.
1. Earning per Share (EPS)
EPS adalah rasio yang menghitung seberapa banyak laba yang terdapat pada tiap lembar saham. Perhitungannya sederhana, yakni dengan membagi total laba bersih dengan jumlah saham yang beredar.
Investor dapat melihat perkembang EPS suatu saham. EPS yang terus bertumbuh menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih semakin meningkat. Semakin besar laba bersih dalam satu lembar saham, semakin profitable dan menarik saham tersebut bagi investor.
2. Price to Earning Ratio (P/E ratio)
PER adalah rasio yang menghitung harga saham dengan keuntungan (earning) yang dihasilkan perusahaan. Cara perhitungannya adalah dengan membagi harga saham dengan laba bersih per lembar saham, atau harga saham per EPS.
Prinsip rasio PER adalah semakin kecil angka PER, maka semakin murah harga saham tersebut. Rasio ini juga dapat digunakan untuk menghitung durasi waktu yang dibutuhkan untuk balik modal.
3. Price to Book Value (PBV)
PBV adalah rasio yang digunakan untuk melihat harga pasar (harga terkini) terhadap nilai wajarnya. Nilai wajar (book value) adalah nilai intrinsik atau harga asli suatu saham. Semakin besar angka PBV, maka semakin jauh harga saham dengan harga aslinya.
PBV dihitung dengan membagi harga saham terkini dengan nilai bukunya. Sementara nilai buku dihitung dengan membagi nilai ekuitas perusahaan dengan jumlah saham yang beredar.
PBV sering digunakan untuk melihat apakah harga suatu saham sudah overvalued (terlalu mahal) ataukah undervalued (terlalu murah/dijual di bawah harga aslinya). Biasanya, investor menyukai saham dengan PBV rendah, atau minimal mendekati book value-nya.
4. Return on Equity (ROE)
ROE digunakan untuk mengukur seberapa mampu perusahaan untuk menghasilkan laba dengan modal yang dimilikinya. ROE sering digunakan untuk mengetahui bagus atau tidak kinerja dan bisnis suatu perusahaan.
ROE dihitung dengan membagi laba bersih dengan ekuitas atau kekayaan bersih yang dimiliki perusahaan. ROE diukur dalam persen, semakin besar hasil persennya maka dapat dikatakan profitabilitas perusahaan itu pun tinggi.
5. Debt to Equity Ratio (DER)
DER membandingkan nilai utang perusahaan dengan modal yang dimilikinya. Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa banyak utang yang dimiliki perusahaan bila dibandingkan dengan jumlah modal yang dimilikinya.
DER dihitung dengan membagi total utang dengan ekuitas atau kekayaan bersih perusahaan. DER diukur dalam persentase. Jika DER lebih kecil dari 100 persen, maka utangnya lebih kecil dibanding modal perusahaan dan sebaliknya.
Angka DER yang besar dapat menunjukkan dua hal, yakni perusahaan memiliki utang besar untuk mengembangkan usaha sehingga dapat berpotensi menghasilkan keuntungan yang juga besar. Atau perusahaan memiliki utang terlalu besar dibanding kemampuan modalnya.
6. Dividend Yield
Dividend yield menghitung persentase dividen yang diberikan perusahaan terhadap harga sahamnya. Yield dividen dihitung dengan cara membagi dividen per lembar saham dengan harga saham per lembar.
Umumnya investor menyukai dividend yield yang besar, sebab artinya investor mendapatkan keuntungan yang besar dari harga saham yang dibayarkannya atas perusahaan tersebut.
Keenam rasio di atas adalah rasio-rasio paling umum yang digunakan investor saham untuk melihat gambaran profitabilitas dan kinerja perusahaan secara umum. Namun di luar rasio-rasio ini, investor juga harus menggunakan pendekatan untuk menganalisa saham.
Ada dua jenis pendekatan yang dapat dipertimbangkan dan digunakan untuk menganalisa saham secara fundamental, yakni pendekatan top down dan pendekatan bottom up.
Pendekatan top down adalah metode analisa dari lingkup yang luas ke lingkup yang lebih spesifik, yakni dengan melihat kondisi ekonomi makro lalu menyempit ke lingkup yang lebih spesifik, yakni ke analisa sektoral dan per bidang industri.
Pendekatan top down bertujuan untuk mengidentifikasi potensi maupun risiko sektor industri yang berpotensi tumbuh dalam jangka panjang berdasarkan faktor-faktor makro yang berpotensi memengaruhi pertumbuhan bisnisnya.
Sementara pendekatan bottom up adalah berkebalikan dari pendekatan top down, yakni dengan menganalisa fundamental saham dari ruang lingkup yang spesifik lalu meluas ke ruang lingkup yang lebih umum.
Pendekatan bottom up bertujuan untuk melihat kualitas dan keunggulan perusahaan-perusahaan di luar kondisi kondisi ekonomi makro maupun tren industrinya.
Itulah panduan dasar analisis fundamental untuk investor pemula.
(Nadya Kurnia)
Reprinted from Idxchannel,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The content above represents only the views of the author or guest. It does not represent any views or positions of FOLLOWME and does not mean that FOLLOWME agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the FOLLOWME community, the community does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.
FOLLOWME Trading Community Website: https://www.followme.com
Hot
No comment on record. Start new comment.